Pages

Jumat, 27 Agustus 2010

Tidak Bergeming Oleh Tiupan Angin


Ada sebuah artikel yang menceritakan, ada seorang gadis kecil melihat ayahnya setiap hari mencuci mobil barunya, merasa sangat iba. Pada suatu pagi, terdorong oleh rasa berbakti kepada orang tua, dia membawa sikat baja bersama dengan timba air, bermaksud membantu ayahnya untuk mencuci mobil.

Tidak lama kemudian ayahnya bangun dari tidur, menyaksikan gadis kecilnya telah mengubah rupa mobil kesayangannya itu menjadi tak dapat dikenal lagi, dengan kehilangan segala akal dia berlutut dan berteriak, "Ya Tuhan! Dalam situasi ini, apa yang harus saya lakukan?"

Tiba-tiba terdengar suara Tuhan  di  telinganya, "Mana yang kau pandang penting, jiwa ataukah materi?"

Dia segera tersadar dan memeluk gadis kecilnya itu dan berkata, "Anak gadis yang pintar dan berbakti, membantu ayah mencuci mobil. Ayah bangga padamu, terima kasih Nak!" Beberapa patah kata ayahnya ini telah membuat gadis kecil yang semula panik dan akan menangis itu berubah menjadi tersenyum.

Masih ada sebuah kisah, ada seorang pria membawa tas hendak pergi ke kantor, memalingkan kepala memandang sekilas di atas meja terdapat satu botol obat berwarna kuning, oleh karena terburu waktu, maka dia berteriak pada isterinya yang ada di dapur, agar botol obat berwarna kuning itu bisa segera disimpan pada tempatnya.

Saat itu isterinya sedang sibuk sekali, ketika dia telah menyelesaikan pekerjaannya dan hendak menyimpan botol itu, ia melihat anak lelakinya telah bangun dan menenggak habis botol obat berwarna kuning itu, karena dikira minuman sirup.

Dengan tergesa-gesa sang ibu membawa anaknya yang kesadarannya berangsur-angsur hilang itu pergi ke rumah sakit. Sayang terlambat, nyawa anak itu sudah tak tertolong lagi. Ketika pria tersebut mengetahui kabar duka anaknya, ia bergegas pergi ke rumah sakit. Dan setiba di sana, ia melihat isterinya sedang sedih meratap dan tak berdaya, kemudian dia memeluk isterinya dengan lembut sambil mengucapkan empat kata, "I love you, Darling!"

Ada seorang ahli psikolog bernama Alice mengemukakan suatu konsepsi (pengertian) yang sangat penting: perasaan seseorang sebenarnya bukan terinisiasi langsung oleh peristiwa dari luar. Diantara peristiwa dan perasaan, sebenarnya masih ada faktor perantara perubahan yang sangat penting, faktor perubahan itu adalah "keyakinan" yang tertanam di dalam hati setiap orang. Peristiwa itu sendiri bukanlah sebab yang bisa mengendalikan gejolak perasaan seseorang.

Seseorang penderita penyakit kanker tahap akhir, telah kenyang dengan siksaan penderitaan ekstrim, kematian mungkin merupakan pembebasan diri yang memang sedang dia harapkan. Dan bagi seseorang yang percaya dengan reinkarnasi, kematian sama seperti orang yang baru terjaga dari tidur, pergi ke tempat yang lain, sama sekali tidak ada perasaan takut.

Kebanyakan orang setelah mendapatkan sejumlah kekayaan besar dari lotere, akan memberikan reaksi suka ria serta tidak bisa tidur selama beberapa hari. Namun bagi mereka yang percaya dengan prinsip "tanpa kehilangan tidak akan mendapatkan, mau mendapatkan harus kehilangan", mereka pasti tidak akan membeli lotere, karena mereka percaya bahwa perolehan itu juga akan diikuti oleh kehilangan meskipun bisa dalam bentuk lain.

Musibah yang tidak terduga bukanlah sebab dari rasa bencinya yang sangat hebat, kekayaan yang diperoleh mendadak, belum pasti bisa membuat perasaan hati gembira, bersorak dan berjingkrak kegirangan. Yang mengendalikan perasaan senang, marah, sedih, gembira bukan terletak pada eksternal dari masalah itu sendiri, kuncinya terdapat pada "hati manusia".

Pujangga kuno China, Fan Zhong Yan pernah mengatakan, "Tidak bergembira karena materi, tidak bersedih karena diri sendiri." Sedang pujangga Su Dongpo berkata, "Ditiup oleh angin dari  delapan penjuru tidak bergeming, duduk tenang di atas bunga lotus emas."

Ada sebagian orang ternama zaman dulu sudah menyadari prinsip seperti ini: "Benar atau salah, keberhasilan ataupun kegagalan sekejab mata semuanya adalah kehampaan."

Pada zaman dahulu di China ada sebuah kisah tentang Sai Ong yang kehilangan kuda. Sai Ong kehilangan seekor kuda, tetapi di luar dugaan dia mendapatkan seekor kuda teji (kuda yang hebat). Tetapi tidak disangka tak lama setelah itu, anaknya jatuh dari atas punggung kuda teji tersebut dan tulang kakinya patah.

Menghadapi dapat atau kehilangan, petaka atau keberuntungan, hati Sai Ong tetap tenang bagaikan air, semua peristiwa yang menimpa dirinya, tidak membuat hatinya menjadi sebentar sedih, sebentar girang.

Sesungguhnya, dalam hatinya Sai Ong mempunyai sebuah prinsip keyakinan bahwa "malapetaka dan keberuntungan akan saling berdampingan".

Kira-kira pada saat saya masih duduk di SMA, saya juga pernah membaca pepatah ternama dari Barat : "Win some, lose some, you cant win them all!", yang berarti "Menang sedikit kalah sedikit, dalam kehidupan ini Anda tidak bisa menang secara total."

Pepatah ternama ini telah beberapa kali membuat saya berlapang dada ketika saya mengalami kerugian besar, dengan hati yang tenang dan damai menghadapi kehidupan ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...