Pages

Rabu, 18 Agustus 2010

Saya Cukup Bahagia

Akhir-akhir ini terjadi booming undian berhadiah Lotto di Taiwan, membuat hati banyak rakyat Taiwan  tergila-gila.

Sebelumnya bahasa sapaan yang umum digunakan oleh masyarakat saat bertemu adalah: “Sudahkah Anda melihat?”

Namun setelah adanya Lotto, dengan sekejab bahasa sapaan itu telah berganti menjadi: “Sudahkah Anda membelinya?”

Pada suatu hari, ketika saya sedang menonton TV yang menayangkan penarikan undian berhadiah Lotto, anak perempuan saya yang masih duduk di kelas 5 SD memakai tren sapaan itu bertanya pada saya: “Ma, sudahkah Anda membelinya?”

Dia melihat saya menganggukkan kepala. Namun dia mengerutkan keningnya dan bertanya lagi: “Mengapa harus membeli? Mama kan sudah cukup bahagia, mengapa harus membeli?”

Ucapannya ini membuat saya tersentak. Karena ingin tahu apa maksud ucapannya itu, saya mematikan TV dan menanyakan alasan dia mengucapkan perkataan itu, “Fani, sebenarnya apa hubungannya membeli atau tidak membeli undian berhadiah dengan bahagia atau tidak?”

“Ma, bukankah Mama sering berkata, Tuhan memperlakukan setiap manusia dengan sangat adil? Mungkin Tuhan memberikan sedikit dalam hal ini, tetapi Dia akan memberikan lebih banyak dalam hal yang lain.”

Benar sekali! Karena putri saya ini saat lahir otaknya mengalami sedikit cedera, maka IQ-nya terpaut jauh dibandingkan dengan anak yang sebaya. Untuk menjaga agar dia tidak kehilangan kepercayaan diri, saya selalu menyemangatinya untuk tidak melepaskan harapan, mengatakan padanya bahwa dalam hal kepandaian mungkin dia kurang, tetapi ia pasti punya kelebihan dalam hal lain.

Berkat dorongan ini, selama ini dia bisa menjadi orang yang cukup percaya diri, dapat menjalankan dengan baik kewajiban diri sendiri serta melakukan hal-hal yang seharusnya dia lakukan.

“Coba Mama lihat. Mama sudah mempunyai putri penurut seperti saya, juga sudah menikah dengan seorang ayah yang sangat mencintai Mama, kakek dan nenek juga sangat menyayangi Mama, keluarga kita juga tidak kekurangan uang, bukankah Mama sudah sangat berbahagia?

Tuhan sudah memberi berkah berlimpah kepada Mama, apakah Dia masih akan membiarkan Mama mendapatkan hadiah? Saya rasa Tuhan tidak akan membiarkan Mama mendapatkan hadiah. Seandainya Mama mendapatkan hadiah, apakah Tuhan akan mengambil kembali sebagian kebaha-giaan yang sudah kita dapatkan ini?”

Perkataan putri saya ini, sekali lagi membuat saya tersentak, merasa sangat malu pada putri saya juga pada diri sendiri.

Beruntung saya masih mengemban tanggung jawab besar untuk mendidik dia, tetapi keserakahan saya yang tiada puasnya ini telah membuat putri saya merasakan cemas dan ketakutan hingga tidak bisa tenang!

Benar juga! Jika saya tidak mengerti untuk menyayangi kebahagiaan yang berada di depan mata dan yang sudah berada di dalam tangan, dan dengan sembarangan mencurahkan segenap pikiran dan tenaga pada “kebahagiaan” yang tidak menentu, maka tidak akan menutup kemungkinan pada suatu hari nanti akan membuat kebahagiaan yang sudah berada di depan mata ini terdorong ke dalam jurang dan tidak akan dapat diubah atau dipulihkan kembali!

Jika demikian bukankah persis seperti ucapan putri saya itu, “Tuhan akan mengambil kembali kebahagiaan yang telah diberikan kepada kita”.

Maka sejak saat itu, jika ada orang yang bertanya pada saya mau membeli atau tidak, saya akan menggunakan nada yang tegas dan pasti memberitahukan kepada orang itu: “Saya tidak mau membeli.”

“Mengapa?”

Karena saya sudah cukup bahagia!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...