Pages

Selasa, 10 Agustus 2010

Jangan Menjadi Tongkat

Akhir-akhir ini saya menghabiskan waktu beristirahat siang untuk bermain dengan seorang teman bernama Anton. Jika tidak berlompatan naik ke atas kursi, ya bernyanyi lagu-lagu anak-anak, kemudian menggunakan kamera HP untuk diabadikan.

Ada seorang rekan yang merasakan bahwa permainan saya dengan Anton terlalu kelewatan. Kepala bagian tempat saya bekerja juga mengatakan bahwa kami seperti anak-anak.  

Tampak luar saya memang sangat berbudaya dan berbudi halus, akan tetapi jika kumpul bersama teman-teman akrab saya bisa bersikap seperti anak kecil. Terhadap kejenakaan saya ini, Anton dan saya mempunyai pengertian yang sama, terhadap penolakan saya dia dapat memahaminya sedangkan terhadap perkataannya yang sinis saya juga bisa menerimanya, mungkin ini dikarenakan usia kita berdua berdekatan maka kami sering bermain bersama.

Teringat suatu malam yang dingin, ketika saya mengenakan kaus kaki, mulut saya bersenandung soundtrack lagu film kesukaan saya sewaktu kecil, ultraman, namun dengan syair yang saya ubah sendiri, “Kaki saya sangat dingin, kaki saya sangat dingin, saya harus memakai kaus kaki! Pakai kaus kaki, pakai kaus kaki, saya harus memakai kaus kaki! Ha ha ha!”

Di samping tak ada orang lain, dengan suasana hati gembira saya menyanyikan lagu itu sambil mengenakan kaus kaki.

Saya kira pasti ada orang lain yang merasakan saya terlalu kekanak-kanakan, tetapi saya sendiri sering merasakan didalam berinteraksi dengan sanak keluarga, teman, pacar atau suami, istri, semua orang harus memahami sebenarnya setiap orang dilahirkan didalam dunia ini sebagai individu yang indipenden.

Jika ingin mempunyai semacam hubungan erat dengan hal yang menyenangkan, maka kita harus menjadikan diri kita sendiri sebagai individu yang bisa menikmati kesendirian.

Baik itu sikap kekanak-kanakan atau sikap yang menggelikan, kita harus berani menghadapi perasaan hati kita sendiri, menanggulangi segala kesulitan dan kegagalan dalam kehidupan ini, bahkan harus belajar bersikap senang hati menerima segala kesengsaraan didalam hidup, menjadi seseorang yang mempunyai perasaan senang dan puas atas dirinya sendiri, orang yang mempunyai kebahagian yang bertunas dalam hati dirinya sendiri.

Dengan demikian meskipun kelak paruh dirinya alias pendamping hidupnya hadir dalam kehidupan, juga tidak akan menganggap pendamping hidupnya itu sebagai sebuah tongkat penyangga hidup yang tidak bisa hidup tanpa dia, lebih-lebih tidak akan membiarkan diri kita sendiri sebagai tongkat penyangga hidup bagi dia, melainkan bisa tumbuh bersama didalam perjalanan hidup ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...