Pages

Senin, 16 Agustus 2010

Inkarnasi Menagih Hutang

Kisah ini terjadi di waktu antara akhir Dinasti Ming dan awal Dinasti Qing. Berjarak beberapa puluh kilometer dari Kota Beijing ada sebuah desa bernama Wa Jiadian. Di dalam desa tersebut ada satu keluarga yang kaya raya, orang menyebut dirinya dengan Tuan Qian.

Dua kilometer dari keluarga kaya itu, tinggal satu keluarga petani bermarga Li, orang biasa memanggilnya Adik Li. Oleh karena bisa mengerjakan sedikit pekerjaan bangunan, dia sering ke rumah Tuan Qian mengerjakan pekerjaan serabutan.

Setiap kali mengerjakan sesuatu di rumah Tuan Qian, upah yang dibe-rikan kepadanya pasti tidak sedikit. Karena sering bekerja di sana, lama kelamaan ia jadi sangat mengenal Tuan Qian. Hubungan antara dua keluarga menjadi erat.

Tuan Qian memanggilnya dengan sebutan Adik Li sedangkan ia memanggil Tuan Qian dengan sebutan Kakak Qian.

Suatu saat, Tuan Qian sekeluar-ga akan pergi melakukan sesuatu di daerah selatan China, butuh waktu beberapa bulan baru kembali. Tuan Qian mencari dan berkata kepada Adik Li: “Adik Li, hubungan kita berdua sangat akrab, saya ada sedikit masalah ingin minta bantuan kepada Adik, maukah mengabulkan permintaan saya.”

Adik Li menjawab: “Kakak Qian, ada masalah apa katakanlah, jika bisa mengatasi masalah ini saya pasti berusaha semampu saya.”

Tuan Qian berkata: “Saya ada sejumlah arak bagus, takut dicuri oleh pengawas rumah saya setelah saya tinggal pergi sekeluarga. Arak-arak tersebut ingin saya titipkan di rumah Adik, bagaimana pendapat Adik tentang hal tersebut.”
Adik Li menjawab: “Masalah kecil seperti ini tentunya tidak ada masalah, saya mengira masalahnya sangat besar, berangkatlah dengan tenang! Menunggu Anda kembali, barang-barang tersebut akan saya kembalikan seperti aslinya.”

Dengan demikian Tuan Qian menyuruh orang membawa 30 guci arak yang masih tersegel dengan baik ke rumah Adik Li. Guci-guci arak tersebut oleh Adik Li disimpan di kamar kosong yang berada di sebelah barat, hari-hari biasa kamar kosong tersebut dikunci.

Tuan Qian sekeluarga telah pergi selama dua bulan dan masih tetap tidak ada kabar beritanya.

Suatu hari Adik Li teringat akan guci-guci arak itu, dia lalu pergi ke kamar kosong itu untuk melihat. 30 guci arak tersebut disegel dengan menggunakan kertas kraft. Di atas guci menempel secarik kertas merah besar yang bertuliskan “ARAK” dengan huruf sangat besar.

Adik Li mencoba mengangkat sebuah guci untuk mencium baunya, tetapi tidak ada baunya sama sekali. Dalam hati dia berpikir: “Guci arak disegel serapat apapun seharusnya bisa tercium sedikit bau. Dia lalu menggunakan kedua tangan untuk menggoyang guci itu, juga tidak terdengar suara arak dari dalam guci itu."

Merasa penasaran, ia terus membuka segel guci. Isi guci tersebut membuatnya sangat terperanjat. Ternyata dalam guci bukan berisi arak,  melainkan uang perak putih. Dia membuka segel semua guci dan menghitung seluruhnya. Tepat berjumlah 30.000 tail perak.

Bagaikan durian runtuh, melihat uang sebanyak ini, ketamakan hati Adik Li terusik. Dia memeras otak memikirkan akal untuk memiliki uang itu. Akhirnya dia menemukan akal busuk. Dia pergi ke kedai arak membeli sejumlah arak bagus, lalu arak tersebut dituangkan ke dalam guci-guci tersebut, kemudian disegel kembali seperti semula, sedangkan uang 30.000 tail perak itu disimpan di dalam ruang bawah tanah rumahnya.

Beberapa bulan kemudian Tuan Qian kembali dari berpergian. Adik Li mengirimkan kembali 30 guci arak ke rumah Tuan Qian. Setelah Adik Li pulang, Tuan Qian membuka guci arak itu untuk melihat, uang perak telah berubah menjadi arak. Dalam hati Tuan Qian segera mengerti: seluruh tabungan hidupnya telah dicuri Adik Li.

Dia bermaksud melaporkan hal tersebut kepada yang berwajib. Tetapi dipikir kembali, awalnya yang dia menitipkan ke Adik Li itu adalah arak, yang dikembalikan ke rumahnya sekarang ini juga adalah arak. Peristiwa tersebut bagaikan orang bisu yang makan barang pahit merasa pahit getir tetapi tidak bisa diutarakan.

Hal ini membuat Tuan Qian menjadi tertekan dan sangat marah. Tidak lewat setengah tahun lamanya Tuan Qian meninggal dunia karena tertekan.

Adik Li mengetahui Tuan Qian sudah meninggal, sudah tidak ada lagi orang yang menagih hutang. Dia lalu menggunakan uang Tuan Qian itu untuk membeli tanah, membangun rumah yang sangat besar, serta mencari lagi beberapa gundik.

Dulu keluarga miskin sepi pengunjung, sekarang setelah kaya rumah ramai bagaikan kota.

Suatu hari salah satu isteri mudanya akan melahirkan. Karena isteri tua tidak memberikan keturunan sedangkan isteri muda tersebut akan melahirkan seorang putra sebagai keturunan, bisakah dia tidak menjadi girang? Harta warisan yang begitu besar tidak ada penerus warisan juga tidak benar.

Hari itu dia tiba-tiba bermimpi. Dia sedang minum teh di kamar, pintu kamar tiba-tiba terbuka, dari arah luar berjalan masuk seseorang, dia memperhatikan dengan saksama ternyata orang tersebut adalah Tuan Qian.

Di atas bahu Tuan Qian terletak sebuah kantung uang, dengan tersenyum simpul dia berkata dengan Adik Li : “Saya datang untuk menagih hutang.” Adik Li mendadak terbangun dari mimpi, sekujur tubuhnya mengeluarkan keringat dingin.

Saat itu datang seorang pembantu rumah berjalan masuk ke dalam dan memberi laporan: “Selamat kepada Tuan Besar, Ibu Kedua telah melahirkan seorang putra yang sehat bagi Anda.”

Sebenarnya berita tersebut adalah kabar yang sangat mengembirakan, tetapi teringat dengan mimpi semalam, sekujur badan Adik Li menjadi kurang nyaman. Selalu memikirkan mimpi itu ada hubungan apa dengan anaknya itu.

Maka dari itu terhadap putranya dia selalu waspada. Tetapi putra tunggalnya tersebut sangat berbakti kepada dia, sampai pada usia sekolah.

Adik Li mengundang beberapa guru untuk mengajar putranya. Anak ini juga berjuang demi kehormatan, apa yang telah diajarkan kepada dia, sekali melihat selamanya tidak akan lupa. Para guru juga sering memuji bakat anak ini, mereka yakin anak tersebut di kemudian hari pasti bisa menjadi seorang pejabat.

Lama kelamaan masalah mimpi menagih hutang juga berangsur-angsur dilupakan oleh Adik Li. Hingga anaknya berumur 18 tahun, akan pergi ke ibu kota untuk mengikuti ujian negara. Sebagaimana diduga sebelumnya anak ini sekali mengikuti ujian negara langsung lulus dan dinobatkan menjadi pejabat tingkat 7.

Rumah Adik Li tergantung lentera-lentera merah, suasana perayaan pesta terlihat di sana, para kolega dan handai taulan berdatangan untuk memberi selamat.

Di dalam perayaan pesta ada seseorang yang berkata: “Zaman sekarang ini lagi tren menggunakan uang membeli jabatan. Saya kira Kakak Li juga tidak kekurangan uang, tidak ada salahnya jika menghabiskan sedikit uang membelikan jabatan yang tingkatnya lebih tinggi bagi putranya.

Jika Anda berminat saya bisa memperkenalkan seseorang kepada Anda.” Para hadirin yang menghadiri pesta itu semuanya berkata pendapat itu sangat bagus.

Adik Li dalam hati berpikir: Putra satu-satunya ini sangat berbakat dalam sastra dan seni, menjadi pejabat tingkat-7 sangat menyia-nyiakan bakatnya, boleh juga jika membelikan jabatan yang lebih tinggi.

Oleh karena itu Adik Li menghabiskan sejumlah uang membeli jabatan itu untuk anaknya. Beberapa bulan kemudian, pejabat yang menerima hadiah besar itu sungguh telah mengangkat putra tunggal Adik Li tersebut menjadi pejabat tingkat-4.

Hal ini juga merupakan kejadian yang mengembirakan, maka dari itu keluarga Li dengan riang gembira  merayakan. Karena jabatan juga sudah ada, maka mak comblang yang mencarikan jodoh juga sangat banyak. Tetapi tidak ada satupun yang diminati oleh anak itu.

Diam-diam dia menaksir anak seorang menteri. Oleh karena itu Adik Li tidak bisa menghindar untuk memberikan hadiah besar mengundang orang untuk menjadi mak comblang.

Setelah menghabiskan sejumlah uang banyak pihak perempuan baru mau menyetujui perjanjian pernikahan ini. Tidak ada cara lain Adik Li juga harus mengeluarkan banyak uang untuk mas kawin putranya itu. Adik Li terpaksa mengabulkan segala permintaan dan akhirnya masalah tersebut baru bisa terselesaikan.

Hari pernikahan ditetapkan pada tanggal 5 bulan depan. Tinggal beberapa hari lagi pernikahan putranya akan dilangsungkan, hati Adik Li sangat gembira. Karena kelewat gembira pada malam harinya Adik Li minum arak agak berlebihan, sehingga dia terbaring di ranjang dan tertidur pulas.

Suasana mimpi pada 18 tahun yang lalu muncul kembali di depannya. Tuan Qian dengan tersenyum simpul berkata kepadanya: “Hutang Anda sudah saya tagih selama 18 tahun, akhirnya terbayar juga, masih disertai dengan sedikit bunga.” Sambil berkata dia menepuk-tepuk kantong uang yang berada diatas bahunya.

Sungguh benar ketika dia pertama kali datang kantung uang diatas bahunya itu masih mengempis, sekarang kantung itu terlihat mengembung.

Tuan Qian melanjutkan berkata: “Hutang sudah lunas, tiba saatnya saya pergi.” Sampai di sini Adik Li tiba-tiba terbangun dari mimpi.

Saat itu bertepatan dengan kedatangan seorang pelayan yang berjalan tergopoh-gopoh masuk ke dalam dan berkata kepadanya: “Tuan besar, ada kabar buruk, putera Anda sedang sakit, sebaiknya Anda pergi menjenguk!”

Adik Li berjalan dengan setengah berlari dia bergegas kekamar anaknya. Putera kesayangannya itu telah meninggal dikamarnya. Dengan lemas dia terduduk di lantai. Akhirnya dia mengerti: Tuan Qian menitis menjadi anaknya untuk menagih hutang.

Dipikir kembali: sejak anak itu lahir, sampai mengundang guru untuk mengajar, pergi mengikuti ujian, membeli jabatan, lamaran, mas kawin, anaknya ini telah menghabiskan uangnya lebih dari 30.000 tail perak. Maka dari itu menjelang kepergian Tuan Qian dia bilang masih termasuk sedikit bunga.

Sejak itu, Adik Li kehilangan semuanya, setiap hari dia berkeliaran di jalan seperti seorang pengemis, bertemu dengan siapapun dia selalu bercerita tentang masa lalunya yang menipu dan mencelakai orang lain, memberi nasihat kepada orang lain jangan sampai melakukan hal-hal yang kejam dan tidak berkeperimanusiaan seperti dirinya.

Kalau tidak, hutang kepada orang lain selalu harus dibayar, tetapi semua orang menganggap Adik Li sudah menjadi gila.

Orang boleh mengira cerita di atas hanyalah isapan jempol, tetapi penulis mendapatkan kasus yang serupa terjadi pada seorang bangsawan yang akhirnya kehilangan putra dan semua hartanya.

Ia menyesali perbuatannya yang jahat, yang ingin mengejar kekayaan dengan menghalalkan segala cara, akhirnya putranya yang menjadi korban. Pada akhirnya ia hanya bisa menyesal, menyesal yang tidak berkesudahan, tetapi apa guna?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...