Pages

Rabu, 11 Agustus 2010

Antara Rezeki dan Malapetaka


Lusi adalah pasien lama saya. Setiap kali sakit kepala, badan panas pasti datang ke sinshe. Keluarganya percaya pada pengobatan China, tak peduli bagian tubuh mana yang kurang enak, pasti minum obat China atau akupunktur, lama kelamaan saya paham kehidupannya.

Dia pengusaha restoran, kerjanya sangat berat dan panjang. Lusi mengira kalau orang lain rajin bekerja, dari pagi hingga petang, rumah gubuk pasti bisa jadi rumah gedung, mobil lama dapat menjadi mobil baru, warung dapat menjadi restoran.

Angan-angan indah ini selalu menemaninya melewati puluhan tahun kesulitan.

Waktu semua usaha berjalan lancar dan mulai membaik, dia sudah paruh baya, akan tetapi seperti kata pepatah, "Manusia boleh berusaha, tetapi Tuhan yang menentukan segalanya." Mimpi indah ini lenyap dihancurkan oleh kenyataan yang kejam.

Dia menderita kanker pankreas stadium akhir, setelah dioperasi, dokter menyarankan dia menjual atau menutup resto miliknya, karena dia tak punya banyak waktu.

Ia mengerjakan semuanya dalam waktu singkat. Mulai dari rencana perluasan restoran, beli tanah, kredit uang, sampai menutup restoran, membuat pemilik tanah dan peminjam dana pusing tujuh keliling.

Dia datang mencari saya dengan wajah sedih, sang suami karena merasa iba berusaha menutupi perselingkuhannya, namun ia tak dapat mengelabuinya. Ini ibarat sudah jatuh tertimpa tangga.

"Dokter, sekarang saya merasa seperti sebuah sampah di lautan yang luas, sendirian tak ada yang membantu, ingin segera menyudahi hidup bukanlah hal yang terlalu berlebihan, toh juga tak akan lama lagi, buat apa meniup sebatang lilin yang akan padam?"

"Rumah sakit menyarankan saya kemoterapi, sepertinya ingin menghukum saya pada waktu yang terakhir ini, semenit pun tak akan merasa enak, saya harus bagaimana?" tanya dia.

Mendengar sampai sini hati saya juga pilu. Wajahnya yang penuh senyum ini sekejap menjadi muram.

Saya bertanya padanya, "Lusi, apakah dirimu yakin akan segera mati?"

"Tidak"

"Engkau ingin menyerah begitu saja dan tidak ingin melawan penyakitmu?"

"Tidak"

"Lihat, bunga kecil yang di bukit itu sedang mekar di musim semi, dia juga baru melewati siksaan di musim salju, air sungai kecil itu juga dari salju yang mencair. Dirimu sedang menghadapi kesulitan,  kesengsaraan, saat ini hidupmu sedang diuji, tapi bukankah waktu ini merupakan kesempatan untuk menunjukkan keberanianmu?

Kesuksesan seseorang bukan ditunjukkan oleh seberapa besar restoran yang dibukanya, tetapi dalam hidup ini ia berhasil memenangkan diri dalam menghadapi kesulitan, dan sungguh-sungguh mengerti makna menjadi seorang manusia," hibur saya.

Dia larut dalam pemikirannya, "Dokter, sebenarnya siapa yang mengontrol hidup kita? Dia memakai apa untuk menentukan siapa boleh hidup berapa lama?" Dalam kegelapan mukanya muncul secercah cahaya, sorot matanya memancarkan seuntai harapan.

"Iya, siapa ya? Itu adalah dirimu sendiri, kehidupanmu, pembayaran atas dosa-dosa, putaran sebab musabab, itu adalah milikmu.......sungguh, itu adalah dirimu sendiri."

Saya tak tega untuk meneruskannya.

Lusi hanyut dalam keheningan, tiba-tiba ia berkata, "Masih sempatkah untuk diperbaiki? Apakah masih sempat untuk diulang sekali lagi? Mungkinkah penyakit itu rezeki dan bukan malapetaka? Mungkinkah hidupku baru saja dimulai?" Dia sepertinya mengenang kembali saat masih sehat dan kuat.

Saya memandangnya pergi, teringat akan pepatah kuno: "Malapetaka akan disertai rezeki, rezeki pun akan disertai malapetaka."

Di bumi ini tidak ada rezeki dan malapetaka yang mutlak, semua itu berimbang, semua itu tergantung pada diri kita masing-masing, bagaimana membenahi, menghadapi, tetapi sayang seringkali manusia hanya tergiur dan peduli pada apa yang ada di hadapannya sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...