Pages

Minggu, 25 April 2010

Enam kali menangisi adikku

Aku lahir di suatu desa di pegunungan yang sangat terpencil. Untuk memenuhi kebutuhan kami, setiap hari dengan berpeluh orang tuaku membajak lahan kami yang tandus. Dan, aku mempunyai seorang adik laki-laki yang usianya tiga tahaun lebih muda daripada aku.

Suatu saat, karena tertarik untuk membeli sebuah sapu tangan yang dipakai oleh banyak gadis di desa kami, aku mencuri uang lima puluh sen dari laci ayahku.

Ayahku segera menyadari kehilangan uang tersebut. Ayah memerintahkan aku dan adikku untuk berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” ayah bertanya dengan sangat marah. Aku terdiam, terlalu takut untuk berbicara.

Ayah semakin marah ketika tidak ada yang mengaku, dan ia berkata, “Baik, kalau begitu kalian berdua akan kuhajar!” Ayah mengangkat tongkat bambu itu tinggi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!”

Tongkat panjang itu segera bertubi-tubi menghantam punggung adikku. Ayah begitu marah, sehingga ia lupa diri dan terus-menerus memukul adikku sampai beliau kehabisan nafas.



Sesudah itu, ayah duduk di atas ranjang batu kami dan memarahi adikku, “Kamu sudah belajar mencuri sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa yang akan datang? Kamulayak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!”

Malam itu ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata setetes pun. Pada tengh malam itu, aku tiba-tiba mulai menangis meraung-raung. Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan berkata, “Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi.” Aku masih selalu membenci diriku, karena tidak memiliki cukup keberanian untuk mengakui perbuatanku.

Bertahun-tahun telah lewat, tetapi kejadian tersbut seakan baru terjadi kemarin. Aku tidak pernah melupakan wajah adikku ketika ia melindungiku. Ketika itu, adikku berusia 8 tahun dan aku berusia 11 tahun.

Setelah adikku lulus SMP, ia akan melanjutkan ke sebuah SMA di kabupaten. Pada saat yang bersamaan, aku diterima untuk masuk ke sebuah universitas provinsi. Malam itu, ayah berjongkok di halaman, mengisap rokok tembakaunya, terus-menerus sampai menghabiskan berbungkus-bungkus rokok. Aku mendengarnya menggerutu, ”Kedua anak kita memberikan hasil yang sangat baik... hasil yang sangat baik....” Ibu mengusap air matanya yang mengalir dan menghela nafas, ”Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?”

Saat itu juga, adikku berjalan keluar menghampiri ayah dan berkata,” Ayah, aku tidak mau melanjutkan sekolah lagi, aku telah cukup membaca banyak buku.”

Ayah mengayunkan tangannya dan memukul wajah adikku, ”Keparat, mengapa kamu memnpunyai jiwa yang begitu lemah? Sekalipun hal tersebut berarti aku harus mengemis di jalanan, aku tetap akan menyekolahkan kalian berdua sampai selesai!” Setelah itu ayah mengetuk setiap rumah di desa untuk mencoba meminjam uang.

Dengan penuh kelembutan, aku menjulurkan tangan ke wajah adikku yang membengkak. Aku mncoba menasehatinya, ”Seorang ank laki-laki harus melanjutkan sekolahnya. Jika tidak, maka ia tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini. Aku seorang wanita. Sekolah tidaklah terlalu penting. Aku telah memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikan ke universitas.

Pada keesokan harinya, sebelum fajar menyingsing, di luar dugaan, adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku, ”Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Aku akan pergi mencari kerja dan mengirimimu uang.”

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, sambil menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Saat itu adikku berusia 17 tahun, sedangkan aku berusia 20 tahun.
Dengan uang hasil pinjaman ayah pada beberapa warga desa, ditambah uang dari adikku (hasil kerja adik sebagai kuli panggul semen dilokasi konstruksi), akhirnya aku berhasil melewati tahun ketiga di universitas.

Pada suatu hari, ketika aku sedang belajar di kamar, teman sekamarku masuk dan memberitahukan, ”Ada seorang penduduk desa menunggumu diluar!”

Mengapa ada seorang penduduk desa mencariku? Aku berjalan keluar,dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu semen dan pasir.

Aku berkata kepadanya, ”Mengapa tidak kamu katakan saja kepada temanku bahwa kamu adalah adikku?” Dia menjawab, tersenyum, ”Lihatlah penampilanku. Apa yang akan mereka pikirkan jika mereka tahu bahwa aku adalah adikmu? Apakah mereka tidak akan menertwakanmu?”
Aku sangat terharu dan air mata kembali mengalir dai mataku. Aku membersihkan semua debu yang melekat pada adikku, dengan agak tesendat-sendat aku berkata, ”Aku tidak peduli omongan siapapun! Kamu adalah adikku bgaimnapun penampilanmu...”

Dari sakunya ia mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk kupu-kupu. Ia memakaikannya di rambutku, dan kemudian menjelaskan, ”Aku melihat semua gadis di kota memakainya. Jadi, aku pikir kamu juga harus memakainya.” Dan, aku pun tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku memeluk adikku, menangis dan menangis.

Waktu terus berlalu, adikku telah berusia 20 tahun sedangkan aku berusia 23 tahun. Saat aku pertama kali membawa pacarku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan rumahku terlihat bersih.
Setelah pacarku pulang, aku menari seperti seorang gadis kecil di depan ibuku. ”Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk mebersihkan rumah kita!” Ibu hanya tersnyum dan berkata, ”ini adalah karena adikmu yang pulang lebih awal untuk mebersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka di tangnnya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.”

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat wajahnya yang kuru, seratus jarum serasa menusukku. Aku mngoleskan seidkit obat pada lukanya dan membalut lukanya.
”Apakah masih sakit?”, aku bertanya kepadanya.

”Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika aku bekerja di lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap saat. Hal tersbut bahkan tidak menghentikanku untuk bkerja.”
Aku membalikan tubuhku memunggunginya, air mata mengalir deras tuirun ke wajahku.
Tahun terus berlalu, dan saat aku menikah, adikku telah berusia 23 tahun, sedangkan aku 26 tahun. Setelahmenikah, aku tinggal dikota. Seringkali suamiku dan aku mengudang orang tuaku datang dan tinggal bersama kami, tapi mereka selalu menolak. Adikku juga tidak setuju.
Suamiku bekerja menjadi direktur di pabrik tempat ia bekerja. Kami menginginkan agar adikku mendapat perkerjaan sebgai manajer pemeliharaan alat teknik. Tetapi ia menolak. Ia bersikeras untuk tetap bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari adikku terkena sengatan listrik ketika ia naik tangga untuk memperbaiki kabel listrik. Ia dimasukkan ke rumah sakit. Suamiku melihat gips putih pada kakinya, aku menggerutu, ”Mengapa kamu menolk twaran menjadi manajer? Seortang manajar tidak akan pernah melakukan seuatu yang berbahaya seperti ini. Liahatlah dirimu saat ini, mendapat luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengarkan kami sbelumnya?”
Dengan wajah serius dia menjelaskan,” Pikirkanlah kakak ipar.. ia baru saja menjadi seorang direktur, dan aku tidak mempunyai pendidikan. Jika aku dijadikan manajer, gosip seperti apa yang kan tersebar?”

Mataku dan suamiku dipenuhi oleh air mata, lalu keluarlah perkataan dengan terpatah-patah, ”tetapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!”
”mengapa membicatakan masa lau?” jawab adikku sambil menggenggam tanganku. Tahun itu adikku berusia 26 tahun, sedangkan aku 29 tahun.

Adikku menikah pada usia 30 tahun, ia menikah dengan seorang gadis petani di desa kami.pada acara pernikahannya, pembawa acara pesta bertanya kepadanya,”Siapa yang paling anda hormati dan kasihi?” tanpa berpikir ia menjawab,”Kakakku.”

Ia melanjutkan dengan menceritakan suatu kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. ”ketika aku masih di sekolah dasar, sekolah kami berada di desa yang berbeda. Setiap hari kakakku dan aku berjalan selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah. Suatu hari, aku kehilangan slah satu sarung tanganku. Lalu, kakakku meberikan satu dari sarung tangannya. Dan ia hanya memakai satu sarung tangan saja dan berjalan sangat jauh. Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang begitu dingin, sampai-sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu aku bersumpah, selama aku masih hidup, aku akan menjaga kakakku dan berbuat baik kepadanya.”
Tepuk tangan memenuhi ruangan itu. Semua tamu memalingkan perhatiannya kepadaku. Bibirku tersa begitu berat dan sulit untuk mengucapkan kata-kata, ”dalam hidupku, orang yang kepadanya aku sangat berterima kasih adalah adikku.”

Dan pada saat yang paling berbahagia itu, di depan kerumunan orang banyak dalam perayaan itu, air mataku mengalir turun seperti sungai membasahi wajahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...