Pages

Minggu, 07 November 2010

Cintailah yang dicintai dengan hati yang penuh cinta

Cassie menunggu dengan antusias. kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Di liriknya terus jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. keluar lagi. belum ada. masuk lagi, keluar lagi.


Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Jam dinding sudah menunjukan pukul 18.30.

"Tin.. Tiiiiinnnnn....!!"

Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Di lihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah.

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah mereka tampak letih karena habis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga.

Tapi Cassie belum dapat mengerti keadaan kedua orangtuanya. Di otaknya yang kecil, ia cuma tahu, ia kangen Mama dan Papanya, dan ia girang melihat Mama dan Papanya pulang.

"Mama, mama.. Mama, mama..," Cassie menggerak-gerakkan tangan mamanya. Tapi mamanya diam saja.

Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit yah? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?"

Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.

Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama.. mana yang sakit? Cassie ambilin obat yah? Ya? Ya?"

Tiba-tiba...

"Cassie...!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik..!!" Mama membentak dengan suara tinggi.

Kaget. Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama... Cassie salah apa?

Perlahan-lahan ia menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati mamanya dari jauh, yang sedang mengurut-urut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama?

Berbagai peristiwa sejenis berulang kali terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak kecil lagi. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa.

"Tinn.. Tiiiiiiinnnn....!!"

Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan.

"Cassie mana?", tanya mamanya.

"Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya," jawab si mbok.

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua.

Dalam kesunyian, Mama berpikir dengan hati terluka: "Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku?

Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak zaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti zaman dulu."

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka.

"Mama, Papa, katakan kepadaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?"

Terkadang kita sering melampiaskan 99 % kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai, dan akibatnya seringkali adalah fatal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...