“(kualitas) Seseorang itu adalah menurut (kualitas) sahabat karibnya. Karena itu, perhatikanlah dengan siapa ia berteman dekat “
Bila kita ingin mengetahui tentang seseorang, maka mari kita lihat saja siapa yang menjadi temannya. Sesungguhnya kualitas diri kita adalah hasil interaksi dengan lima orang yang selalu bersama dengan kita. Dengan siapa kita sering bersama akan berdampak pada menjadi apa kita nantinya. Siapapun orang tempat kita melewatkan waktu bersama, dia bisa mengangkat kualitas diri kita ataupun menjatuhkannya.
Siapa saja orang2 yang mana kita kerap berinteraksi dengannya akan mempengaruhi lintasan pemikiran kita sampai pada urusan2 yang kerap kita tangani. Akan ada sisi-sisi dari dalam diri kita yang pada akhirnya akan diperkuat dan dikekalkan hingga menjadi kebiasaan atas pengaruh kebiasaan dari orang2 di sekitar kita.
Boleh jadi Anda adalah orang yang paling pintar dan bijak di lingkup pergaulan Anda, namun bila Anda selalu saja dikelilingi oleh orang2 yang negatif, cepat atau lambat itu akan berpengaruh pada kemajuan kedewasaan Anda dan menjadi orang seperti apakah Anda nantinya. Jika Anda adalah orang yang berpendirian teguh, memang pengaruh buruk yang bisa Anda rasakan akan cukup bisa ditanggulangi atau terbatasi, setidaknya begitulah harapannya.
Minggu, 03 Oktober 2010
Wajah Didalam Kanvas
Kutatap awan yang bergerak di atas sana, bergulung saling berkejaran. Awan-awan itu sangat lamban. Saat itu tinggiku baru mencapai pinggang ibu, mungkin empat tahun, aku tidak begitu tahu pasti.
Awan-awan itu terlihat begitu dekat. Seringkali aku melompat-lompat ingin meraihnya walaupun aku tahu bahwa usaha tersebut sia-sia saja. Keinginan hatiku yang lebih besar untuk dapat menyentuhnya selalu mengalahkan logika kecil ini.
Di saat seperti itu Ayah dan Ibu tertawa-tawa melihat tingkahku yang lucu. Mereka menggerak-gerakkan mulut. Aku tahu mereka sedang mengatakan sesuatu, namun hanya gerakan yang aku lihat. Tidak pernah aku mengerti apa yang mereka katakan, hingga usiaku 14 tahun.
Sekian tahun berlalu tanpa arti mendalam di masa kecilku, pasti karena umurku masih terlalu muda untuk mengerti. Sehingga hari itu, hari dimana aku menyadari bahwa hanya akulah yang tidak dapat berkomunikasi dengan orang-orang di sekitar.
Hari yang masih tergambar jelas di dalam ingatanku. Kuingat Ibu membawaku ke dokter. Dimana seorang lelaki di balik seragam putih bersih, yang kemudian selalu kupanggil Om Dokter. Ia meraba telingaku, mengetuk-ngetuk dengan jarinya, dan melakukan beberapa pemeriksaan yang sangat tidak aku mengerti.
Hidup Ini Untuk Apa
Apa tujuan hidup Anda? Cobalah sejenak memikirkan, merenungkan, dan menggumuli pertanyaan itu. Itu penting agar hidup kita tidak seperti layangan putus, terombang-ambing.
Tuhan menciptakan dan memberi kita hidup, tentunya tidak sekedar untuk mati. Pasti ada misi bagi kita. Ada dua misi, yaitu misi individual dan misi universal. Misi universal yang berlaku bagi semua orang percaya adalah menjadi garam dan terang dunia.
Garam dapat mencegah pembusukan daging dan memberi cita rasa pada makanan. Orang romawi dulu bahkan menganggap garam sebagai benda paling bersih dan jernih, karena berasal dari dua benda yang juga paling bersih dan jernih, yaitu matahari dan laut. Karena itu, garam selalu dihubungkan dengan kemurnian.
Adapun Terang memampukan kita untuk membedakan jalan yang benar dan salah. Terang juga dapat menjadi alat penyelamatan. Dan banyak lagi manfaat terang. Bahkan sesungguhnya, tapa terang dunia, tidak akan pernah ada kehidupan.
Tuhan menciptakan dan memberi kita hidup, tentunya tidak sekedar untuk mati. Pasti ada misi bagi kita. Ada dua misi, yaitu misi individual dan misi universal. Misi universal yang berlaku bagi semua orang percaya adalah menjadi garam dan terang dunia.
Garam dapat mencegah pembusukan daging dan memberi cita rasa pada makanan. Orang romawi dulu bahkan menganggap garam sebagai benda paling bersih dan jernih, karena berasal dari dua benda yang juga paling bersih dan jernih, yaitu matahari dan laut. Karena itu, garam selalu dihubungkan dengan kemurnian.
Adapun Terang memampukan kita untuk membedakan jalan yang benar dan salah. Terang juga dapat menjadi alat penyelamatan. Dan banyak lagi manfaat terang. Bahkan sesungguhnya, tapa terang dunia, tidak akan pernah ada kehidupan.
Cinta Tidak Selalu Berwujud Bunga
Kekasih saya adalah seorang yang sederhana, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di perasaan saya, ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.
Satu tahun dalam masa perkenalan, dan tiga tahun dalam masa pacaran, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Kekasih saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pacaran kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Satu tahun dalam masa perkenalan, dan tiga tahun dalam masa pacaran, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan.
Kekasih saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pacaran kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Cintaku Ini Adalah Luka
Hari ini hitam, seperti malam. Pekat tak mau beranjak cahaya. Tubuh siapa bulan itu, yang wajahnya selalu kuingin: segalanya cukup, tak terang seperti terik matahari. Suara siapa sepi itu, yang damainya selalu kuharap: tak ada resah. Cinta siapa yang tak membuat luka? Aku tak tahu sebab semua cinta adalah luka.
Di ujung malam aku diam sebab hening itu yang kuingin. Segalanya lebih baik bisu. Biarlah kata disimpan bibir rapat. Aku tak butuh huruf-huruf yang kupahami sebagai perih. “Hei, kenapa kau lanjutkan kisah asmaramu jika pengkhianatan cinta dan sakit hati yang kau dapatkan?
Bukankah perjalanan cintamu yang dulu-dulu adalah sapaan Tuhan agar engkau berkaca? Kenapa tak kau pakai cermin itu? Atau engkau telah buta oleh cinta pada perempuan yang kini akhirnya menyakiti perasaanmu dan mengkhianati janjimu?” Tidak ada jawaban sebab aku tak menginginkannya.
Bayangan dia kembali muncul di antara gelap. Ia tersenyum kepadaku. Wajahnya yang indah dan manis. “Oh, Vy! Tak kuasa aku menahan sakit yang begitu perih dan bahkan mencabik-cabik hati ini hingga lebur. Tutup, senyumanmu palsumu itu! Tutuplah mulutmu itu.
Jangan pergunakan serpihan kata-kata bahkan kalimat untuk sekadar bercakap-cakap denganku. Biarlah, biarlah kucoba pahami engkau melalui kisah cinta kita yang ternyata engkau khianati. Aku sanggup. Aku mampu mengerti segalanya hanya dengan diam.
Jangan Pernah Takut Dengan Hidup
Aku bercerita kepada cucuku yang berumur 10 tahun tentang manis dan pahitnya hidup ini. Dia bernama Atma, dia sangat menurut dengan nasehat yang aku berikan. Ibunya meningggal saat melahirkannya, dan ayahnya telah pergi entah kemana. Suamiku meninggal 30 tahun yang lalu karena terkena jantung.
Atma tinggal seorang diri, aku menyuruhnya untuk tinggal bersamaku tetapi dia tidak mau katanya dia ingin mandiri. Aku bangga kepadanya karena dia akan menjadi orang yang sukses kelak. Memang hidup ini sangatlah indah, tapi tidak seindah saat kita mengalami sebuah masalah.
Atma tidak dapat melanjutkan sekolahnya, karena aku tidak mampu membiayai sekolahnya. Aku merasa bersalah kepada anakku yang telah meninggal, karena aku tidak dapat merawat anaknya. Aku menangis dan tidak tahu harus bagaimana.
Dua minggu aku menunggu Atma, tetapi dia tidak datang mengunjungiku, aku mulai khawatir biasanya dia selalu datang setiap minggu. Aku takut terjadi sesuatu dengan dia. Sore ini aku bersiap untuk pergi dan mengunjunginya mungkin terjadi sesuatu kepadanya.
Atma tinggal seorang diri, aku menyuruhnya untuk tinggal bersamaku tetapi dia tidak mau katanya dia ingin mandiri. Aku bangga kepadanya karena dia akan menjadi orang yang sukses kelak. Memang hidup ini sangatlah indah, tapi tidak seindah saat kita mengalami sebuah masalah.
Atma tidak dapat melanjutkan sekolahnya, karena aku tidak mampu membiayai sekolahnya. Aku merasa bersalah kepada anakku yang telah meninggal, karena aku tidak dapat merawat anaknya. Aku menangis dan tidak tahu harus bagaimana.
Dua minggu aku menunggu Atma, tetapi dia tidak datang mengunjungiku, aku mulai khawatir biasanya dia selalu datang setiap minggu. Aku takut terjadi sesuatu dengan dia. Sore ini aku bersiap untuk pergi dan mengunjunginya mungkin terjadi sesuatu kepadanya.
Langganan:
Postingan (Atom)




