Pages

Jumat, 30 April 2010

Kisah Junko Furuta

THE MURDER OF JUNKO FURUTA
Spoiler for junko furuta:

Di November 1988, cowok A (18 tahun), cowok B (Jo Kamisaku umur 17, Kamisaku adalah nama keluarga yang dia ambil setelah keluar dari penjara), cowok C (umur 16),dan cowok D (umur 17) dari Tokyo menculik dan menyekap Furuta Junko, siswi kelas 2 SMU dari Saitama selama 44 hari. Mereka menjadikan dia tahanan di rumah yang dimiliki orang tua cowok C.

Untuk menghindari pengejaran polisi, cowok A memaksa Furuta untuk menelepon orangtuanya dan menyuruhnya mengatakan kalau dia kabur dari rumah, dengan temannya, dan tidak berada dalam bahaya. Bahkan cowok a membuat furuta berakting sebagai pacar dari salah satu cowok–cowok itu ketika orangtua C, pemilik rumah sedang ada dirumah tersebut. Kalau mereka sudah yakin orang tua C tidak akan telepon polisi, mereka pun menyudahi sandiwara tersebut. Furuta mencoba kabur berkali–kali, memohon pada orang tua C untuk menyelamatkan dia, tapi mereka tidak melakukan apa2 meskipun mereka tahu kalau selama ini Furuta disiksa, karena mereka takut kalau cowok A akan menyiksa mereka. Cowok A saat itu adalah pemimpin yakuza kelas rendah dan telah mengecam siapapun yang ikut campur akan dibunuh.

Menurut kesaksian para cowok itu di persidangan, mereka berempat memperkosa Furuta, memukulinya, memasukan macam2 benda ke dalam vaginanya termasuk tongkat besi, membuatnya minum urin nya sendiri dan makan kecoak, memasukan petasan ke dalam anusnya dan meledakannya, memaksa furuta untuk masturbasi, memotong (maaf) putingnya dengan tang, menjatuhkan barbell ke perutnya, dan membakarnya dengan rokok dan korek api (salah satu dari pembakaran itu adalah hukuman karena dia berusaha menelepon polisi).

Kamis, 29 April 2010

Bolehkah aku mencium dirimu mama


Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya.
Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai
dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku “dipaksa”
membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.

Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengijinkanku bermain sebelum semua
pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya
sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tak jarang aku
merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali
mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua.
Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari
anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa
kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang
baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang
mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Aku tak peduli dengan
setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya,
atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu, yang
penting aku senang ia menungguku sampai bel berbunyi.

Kini setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain
bersama teman-teman bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia
sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah.
Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan
rumah tangga.

Rabu, 28 April 2010

Izinkan aku mencintaimu sekali lagi

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku.

Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic.

Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang.

Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu.

Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas.

Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah.

Untaian Kehidupan


Seorang ibu berprofesi sebagai peminta-minta yang berada di sudut lampu merah itu menggendong anaknya yang masih kecil, berjalan mendekati seorang pedagang makanan keliling. Dengan beberapa ratus rupiah sebuah bungkus permen itu berpindah tangan, yang kemudian diberikannya kepada sang anak di gendongan. Sang anak dengan wajah ceria menerima dan kemudian memainkannya tanpa bermaksud memakannya, mungkin karena tidak tahu bagaimana cara membukanya atau memang dia hanya memainkannya. Sang kakak mendekatinya dan mencoba untuk meminta permen itu, tapi sang adik tak memberikannya dan karena kakaknya memaksa maka menangislah si kecil. Sebuah potret nuansa kehidupan manusia di kota metropolitan, sebuah foto yang jelas menggambarkan bagaimana beratnya mengarungi kehidupan ini.

Anak mungil yang tidak seharusnya berada tiap hari di jalanan yang penuh dengan kotoran kimia itu tanpa dapat menolak harus menjalaninya, dia harus bersahabat dengan semua kotoran, debu, motor, dan mobil serta orang-orang yang lewat di lampu merah itu, dia, tanpa pernah mengerti menghirup bulat-bulat semua hal yang disajikan di depan hidungnya, semua kotoran yang seharusnya dibuang oleh kuda-kuda besi itu harus dihirup dan dimasukkan ke paru-parunya yang kecil, harus dialirkan oleh darahnya ke semua sudut bagian tubuh mungilnya. Sebuah cerita sedih yang tak tahu kapan akan berakhir.

Pria Muda Tampan Menikahi Nenek Usia 82 Tahun




Aneh! Apa sih yang membuat seorang lelaki muda dan tampan ingin menikahi wanita tua, tepatnya nenek-nenek. Pasalnya, wanita ini, Adelfa Marta Volpes, benar benar sudah sangat sepuh, usianya 82 tahun, sementara sang pemuda tampan usianya 24 tahun.

Pemuda yang menjadi sorotan masyarakat itu bernama Rainaldo Waveqche. Pasangan ‘aneh' ini menikah di kota Santa Fee, 490 km sebelah utara Buenos Aires, Argentina. Konon kabarnya, Reinaldo telah tinggal bersama nenek Adelfa sejak berusia 15 tahun. Disebutkan Reinaldo baru jatuh cinta pada nenek Adelfa ketika ia berusia 18 tahun.

Pasti anda semua tak percaya bahwa ini adalah cinta suci seperti seorang laki-laki mencintai seorang wanita. Dan, banyak orang tidak percaya adanya ‘cinta suci' itu dan mereka meragukan motivasi Reinaldo menikahi si nenek.

Senin, 26 April 2010

Bungkus Palsu

Jessica adalah anggota baru di sanggar tari. wanita mungil itu selalu terlihat lincah dan riang. gayanya luwes, senyumnya ramah. tidak banyak yang mengetahui usianya sudah berkepala tiga. Sepintas gayanya lebih mirip mahasiswi daripada seorang ibu beranak satu.

Minggu lalu Jessica terlambat. dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi. setelah sepeda motor bututnya diparkirkan, dengan langkah tergesa-gesa Jessica langsung menuju meja resepsionis. Masih seperti biasa, senyum lebar selalu menyungging di bibirnya. lalu dia menyodorkan Kartu Keanggotaan untuk diabsensi, Jessica baru menyadari air botol minum di kantong samping ranselnya kosong, ternyata dia lupa mengisi ulang botol minumnya karena tergesa-gesa. Jessica mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, mencari air dispenser. dalam benaknya, di sanggar tari sebesar itu pasti ada air dispenser yang disediakan untuk para member.

Dengan rasa sungkan dan ragu, Jessica bertanya kepada resepsionis apakah ia boleh meminta botol air minumnya diisi kembali, “Oh, boleh” jawab resepsionis. di panggillah seorang pelayan dapur, “Maaf, mbak, saya lupa mengisi air minum, boleh tolong diisikan ?” tanya Jessica.

Jessica lalu memberikan botol minum berukuran 500 cc itu kepada pelayan dapur. Pelayan dapur agak ragu menerima botol minum tersebut. dengan gelisah ia masih berdiri di sana , seakan-akan menunggu persetujuan dari seseorang, Jessica sedikit heran. Keengganan itu terlihat begitu jelas.

Kemudian datanglah seorang wanita paruh baya. Entah siapa dia, tapi Jessica sering melihatnya di kafe lantai bawah, mungkin pemilik sanggar tebaknya. Jessica merasa tidak enak dengan tatapan tajam dari mata wanita itu. Pelayan dapur agak gugup menjelaskan maksudku kepada wanita tersebut.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...